Langsung ke konten utama

Postingan

Antara Teh, Kenangan, dan Cinta yang Pernah Singgah

Kreasi Eaiy Ditorehkan oleh: Mohammad Nayaka Rama Yoga Ada hal-hal kecil dalam hidup kita yang seringkali membawa kenangan kembali melintas. Salah satunya adalah momen dikala menikmati secangkir teh nan legit. Rasa-rasanya, hakikat teh itu selalu terlihat sederhana. Tidak nampak mewah, tidak pula dipenuhi kerumitan. Hanya minuman yang terdiri dari air panas, daun teh yang sudah diluluh lantahkan sedimikian rupa, dan dapat diseduh dalam waktu sececah mata memandang. Namun entah kenapa, dari hal yang sesederhana ini, sering muncul banyak hal yang tidak sesederhana kelihatannya. Ingatan, perasaan, bahkan bayangan seseorang yang pernah kita cintai. Kadang ketika kita mulai menyesap teh di sore hari, ada bayangan yang datang tanpa diseru. Bayangan tentang panjangnya percakapan yang pernah terjadi, tentang renyahnya tawa di antara dua insan, atau tentang seseorang yang dulu sering duduk di seberang meja dan saling memandang dengan begitu cerapnya. Dulu, semua itu terasa dekat dan berar...
Postingan terbaru

Merayakan Hari Perempuan Internasional dan Perjuangan Panjang Pengesahan UU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga

Ditulis: Mohammad Nayaka Rama Yoga Setiap tahunnya, tepatnya pada tanggal 8 Maret, seluruh negara ikut serta merayakan satu hari rayanya kaum hawa, yaitu International Women’s Day. Namun di Indonesia, perayaan ini harus menjadi sebuah ironi. Di tengah besarnya arus narasi dan wacana soal pemberdayaan perempuan yang terus didengungkan oleh berbagai gerakan sipil, jutaan perempuan dengan profesi sebagai pekerja rumah tangga (PRT) justru bekerja tanpa dipayungi oleh hukum yang memadai. Di balik layar, tanpa kita sadari profesi ini secara tidak langsung sangat mempengaruhi kehidupan sosial-ekonomi di masyarakat. Akan tetapi sampai saat ini dengan tidak adanya perlindungan hukum yang memadai, kelompok profesi ini terlihat diperlakukan sebelah mata oleh negara. Bagi saya pribadi, selama negara masih membiarkan pekerja rumah tangga bekerja tanpa perlindungan hukum, peringatan Hari Perempuan Internasional di Indonesia bisa disebut sebagai omong kosong yan...

Mengembalikan HMI ke Pangkuan Kaum Mustadh'afin

  Mengembalikan HMI ke Pangkuan Mustadh'afin  (Refleksi Dies Natalis HMI ke-79) Mohammad Nayaka Rama Yoga  (Kader HMI Cabang Semarang) Tidak henti-hentinya otokritik dilontarkan kepada Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), mulai dari karya Agus Salim Sitompul yang berjudul “44 Indikator Kemunduran HMI” sampai ke dalam diskusi-diskusi di tongkrongan kadernya sendiri. Namun dalam tulisan yang sedikit ilmiah ini, penulis mencoba untuk tidak banyak mengeluh dan memberikan otokritik yang kurang konkrit dan tidak terstruktur seperti layaknya omong kosong belaka. Dalam tulisan ini, penulis akan membahas sedikit gagasan kecil lagi mungil yang cenderung anti mainstream . Gagasan ini akan mematahkan pikiran mainstream yang sudah diwariskan oleh senior-senior terdahulu kepada kader-kadernya tentang idealnya HMI. Kualitas insan cita yang selalu didoktrinkan di dalam Basic Training atau Latihan Kader 1 yang menurut penulis sendiri indah untuk disampaikan, akan tetapi sulit diwujudkan dala...

Gig Economy Antara Solusi Penghasilan Instan dan Ilusi Kebebasan Bekerja

 Gig Economy : Antara Solusi Penghasilan Instan dan Ilusi Kebebasan Bekerja Sumber: Akal Imitasi Penulis: Mohammad Nayaka Rama Yoga             Bagi banyak anak muda hari ini, definisi bekerja tidak lagi identik dengan datang ke kantor jam sembilan pagi dan pulang jam empat sore dengan gaji yang tetap di setiap bulannya. Menunggu orderan penumpang masuk, mengejar rating dari pelanggan, atau berburu proyek lepas yang belum tentu datang secara rutin, saat ini sudah tergolong masuk definisi “bekerja”. Profesi-profesi seperti driver ojek online, kurir paket, hingga freelancer digital, saat ini semakin diminati oleh anak-anak muda. Sistem kerja yang seperti ini kini dikenal sebagai gig economy dan sering dipromosikan sebagai cara baru dalam bekerja yang lebih fleksibel dan modern. Tapi di balik janji-janji kerja yang serba fleksibel itu, muncul pertanyaan yang jarang sekali dibahas. Apakah gig economy ini benar-benar akan membuka jalan menuju hidup yang l...

Demokrasi di Bawah Senapan: Revisi UU TNI dan Masa Depan Papua

Demokrasi di Bawah Senapan: Revisi UU TNI dan Masa Depan Papua Mohammad Nayaka Rama Yoga Dalam sistem politik yang demokratis, supremasi sipil atas militer adalah salah satu prinsip fundamental yang harus dijaga. Ini akan menjamin kebebasan, keadilan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia (HAM). Sejak Reformasi 1998, Indonesia telah berusaha membatasi peran militer dalam urusan non-pertahanan melalui berbagai kebijakan, termasuk lahirnya Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI). Undang-undang ini secara eksplisit membatasi keterlibatan militer dalam urusan sipil dan mempertegas peran pertahanan TNI dalam sistem demokrasi. Namun, belakangan, muncullah revisi UU TNI yang justru yang dapat membalikkan cita-cita reformasi.  Revisi undang-undang ini mencantumkan perluasan wewenang militer dalam ranah non-perang (OMSP) hingga mencakup urusan pemerintahan, pembangunan, penanganan konflik sosial, bahkan keterlibatan dalam proyek strategis nasion...

Orang Yang Berhutang Lebih Galak Dari Yang Memberikan Hutang Saat Ditagih, Ini Jawaban Ilmiahnya

Orang Yang Berhutang Lebih Galak Dari Yang Memberikan Hutang Saat Ditagih, Ini Jawaban Ilmiahnya Mohammad Nayaka Rama Yoga Sumber: Ilustrasi Pribadi Saya selalu percaya bahwa salah satu misteri paling membingungkan dalam kehidupan sosial bukanlah kenapa dinosaurus punah, bukan pula kenapa harga telur dan daging bisa naik turun dengan drastis yang bikin jantung dan dompet member gym majapahit  deg degan  setiap harinya, bukan bukan. Tetapi, persoalan  kenapa  orang yang berhutang seringkali lebih galak daripada yang memberi hutang . Fenomena ini begitu ajaib sampai rasanya saya sebagai sosiolog perlu membuat seminar dan konferensi khusus untuk membahasnya di depan para  debt collector  dan mata elang. Namun sebelum itu terjadi, izinkan saya sebagai seorang sosiolog muda lagi amatir ini memberikan sedikit opini yang kelihatannya akan masuk akal dan bisa menjawab pertanyaan di atas. Pertama-tama, memahami masalah hutang tidak bisa disederhanakan hanya sek...

Dari Bilik-Bilik TPS ke Lobi-Lobi Para Elit: Mau Dibawa Kemana Demokrasi Lokal Kita Hari Ini?

  Dari Bilik-Bilik TPS ke Lobi-Lobi Para Elit: Mau Dibawa Kemana Demokrasi Lokal Kita Hari Ini? Mohammad Nayaka Rama Yoga Sumber: Ilustrasi Pribadi      Hari ini, banyak orang sudah lelah dengan hiruk-pikuk dunia politik. Sebagian masyarakat menganggap Pilkada penuh dengan keributan, penuh dengan money politic , dan pemasangan baliho-baliho yang memenuhi dan mengganggu estetika jalanan. Belum lagi politisi yang semakin banyak menjual janji-janji kosong, dan berbagai drama lainnya yang tidak berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat. Karena itu, ketika muncul wacana agar kepala daerah baik di kabupaten/kota maupun provinsi tidak lagi dipilih langsung oleh rakyat, melainkan dipilih oleh DPRD, sebagian orang justru mengangguk-angguk dan menyatakan setuju dalam hati. Di dalam hati mereka terbersit “akhirnya aku nggak usah lagi deh nyoblos-nyoblos paslon yang gak ku kenal di TPS”. Efeknya yang paling dominan adalah tidak akan ada lagi hawa-hawa kampanye di sepanjang j...