Langsung ke konten utama

Postingan

Proses-Proses Yang Harus Dilalui Kader HMI Untuk Menjadi Instruktur

Proses-Proses Yang Harus Dilalui Kader HMI Untuk Menjadi Instruktur Ilustrasi Milik Penulis Ditulis Oleh Mohammad Nayaka Rama Yoga, S.Sos (Instruktur HMI Cabang Semarang) Perkaderan instruktur di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada dasarnya adalah proses untuk menyiapkan kader agar mampu mengelola dan mendampingi jalannya training dengan baik. Menjadi instruktur bukan hanya soal bisa berbicara di depan forum atau menguasai banyak materi. Lebih dari itu, seorang instruktur perlu memahami bagaimana proses belajar berlangsung, bagaimana karakter peserta berbeda-beda, bagaimana dinamika forum berkembang, dan bagaimana tujuan sebuah training bisa benar-benar tercapai. Proses menuju instruktur tentu tidak dimulai secara tiba-tiba. Seorang kader lebih dulu melewati proses perkaderan dasar di HMI, yaitu Latihan Kader I atau Basic Training. Setelah itu, kader mengikuti berbagai kegiatan lanjutan, baik melalui follow up, aktivitas komisariat, kepanitiaan, diskusi, maupun kegiatan organisasi lain...
Postingan terbaru

Hidup-Hidupilah LKK dengan semangat Ethics Of Care

Dokumentasi : Milik Penulis Seperti biasa, kembali merayakan perjuangan dan pengabdian di HMI dengan menjadi instruktur di berbagai training. Kali ini, saya diberikan kesempatan untuk menjadi salah satu dari team master dalam Training LKK HMI Cabang Salatiga 2026. Banyak pengalaman dan kesan yang saya dapatkan dan bisa saya rasakan dalam forum ini. Disinilah saya mendapatkan ruang untuk bisa hadir dan mendengarkan berbagai macam pengalaman dan pengetahuan dari perempuan-perempuan yang paling hebat. Saya belajar banyak bagaimana perempuan yang seringkali menjadi objek marjinalisasi dan subordinasi dalam masyarakat kita, memiliki cara pandang sendiri dalam memandang hidupnya dan dunia sekitarnya. Satu hal yang saya kagumi dari peserta di dalam forum ini adalah bagaimana cara berpikir mereka yang khas, yaitu dengan mengedepankan empati, perasaan, dan kepedulian terhadap sesama. Saya kira ini adalah sebuah kelebihan, meskipun masyarakat kita yang patriarki cenderung memandang cara berpikir...

Antara Teh, Kenangan, dan Cinta yang Pernah Singgah

Kreasi Eaiy Ditorehkan oleh: Mohammad Nayaka Rama Yoga Ada hal-hal kecil dalam hidup kita yang seringkali membawa kenangan kembali melintas. Salah satunya adalah momen dikala menikmati secangkir teh nan legit. Rasa-rasanya, hakikat teh itu selalu terlihat sederhana. Tidak nampak mewah, tidak pula dipenuhi kerumitan. Hanya minuman yang terdiri dari air panas, daun teh yang sudah diluluh lantahkan sedimikian rupa, dan dapat diseduh dalam waktu sececah mata memandang. Namun entah kenapa, dari hal yang sesederhana ini, sering muncul banyak hal yang tidak sesederhana kelihatannya. Ingatan, perasaan, bahkan bayangan seseorang yang pernah kita cintai. Kadang ketika kita mulai menyesap teh di sore hari, ada bayangan yang datang tanpa diseru. Bayangan tentang panjangnya percakapan yang pernah terjadi, tentang renyahnya tawa di antara dua insan, atau tentang seseorang yang dulu sering duduk di seberang meja dan saling memandang dengan begitu cerapnya. Dulu, semua itu terasa dekat dan berar...

Merayakan Hari Perempuan Internasional dan Perjuangan Panjang Pengesahan UU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga

Ditulis: Mohammad Nayaka Rama Yoga Setiap tahunnya, tepatnya pada tanggal 8 Maret, seluruh negara ikut serta merayakan satu hari rayanya kaum hawa, yaitu International Women’s Day. Namun di Indonesia, perayaan ini harus menjadi sebuah ironi. Di tengah besarnya arus narasi dan wacana soal pemberdayaan perempuan yang terus didengungkan oleh berbagai gerakan sipil, jutaan perempuan dengan profesi sebagai pekerja rumah tangga (PRT) justru bekerja tanpa dipayungi oleh hukum yang memadai. Di balik layar, tanpa kita sadari profesi ini secara tidak langsung sangat mempengaruhi kehidupan sosial-ekonomi di masyarakat. Akan tetapi sampai saat ini dengan tidak adanya perlindungan hukum yang memadai, kelompok profesi ini terlihat diperlakukan sebelah mata oleh negara. Bagi saya pribadi, selama negara masih membiarkan pekerja rumah tangga bekerja tanpa perlindungan hukum, peringatan Hari Perempuan Internasional di Indonesia bisa disebut sebagai omong kosong yan...

Mengembalikan HMI ke Pangkuan Kaum Mustadh'afin

  Mengembalikan HMI ke Pangkuan Mustadh'afin  (Refleksi Dies Natalis HMI ke-79) Mohammad Nayaka Rama Yoga  (Kader HMI Cabang Semarang) Tidak henti-hentinya otokritik dilontarkan kepada Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), mulai dari karya Agus Salim Sitompul yang berjudul “44 Indikator Kemunduran HMI” sampai ke dalam diskusi-diskusi di tongkrongan kadernya sendiri. Namun dalam tulisan yang sedikit ilmiah ini, penulis mencoba untuk tidak banyak mengeluh dan memberikan otokritik yang kurang konkrit dan tidak terstruktur seperti layaknya omong kosong belaka. Dalam tulisan ini, penulis akan membahas sedikit gagasan kecil lagi mungil yang cenderung anti mainstream . Gagasan ini akan mematahkan pikiran mainstream yang sudah diwariskan oleh senior-senior terdahulu kepada kader-kadernya tentang idealnya HMI. Kualitas insan cita yang selalu didoktrinkan di dalam Basic Training atau Latihan Kader 1 yang menurut penulis sendiri indah untuk disampaikan, akan tetapi sulit diwujudkan dala...

Gig Economy Antara Solusi Penghasilan Instan dan Ilusi Kebebasan Bekerja

 Gig Economy : Antara Solusi Penghasilan Instan dan Ilusi Kebebasan Bekerja Sumber: Akal Imitasi Penulis: Mohammad Nayaka Rama Yoga             Bagi banyak anak muda hari ini, definisi bekerja tidak lagi identik dengan datang ke kantor jam sembilan pagi dan pulang jam empat sore dengan gaji yang tetap di setiap bulannya. Menunggu orderan penumpang masuk, mengejar rating dari pelanggan, atau berburu proyek lepas yang belum tentu datang secara rutin, saat ini sudah tergolong masuk definisi “bekerja”. Profesi-profesi seperti driver ojek online, kurir paket, hingga freelancer digital, saat ini semakin diminati oleh anak-anak muda. Sistem kerja yang seperti ini kini dikenal sebagai gig economy dan sering dipromosikan sebagai cara baru dalam bekerja yang lebih fleksibel dan modern. Tapi di balik janji-janji kerja yang serba fleksibel itu, muncul pertanyaan yang jarang sekali dibahas. Apakah gig economy ini benar-benar akan membuka jalan menuju hidup yang l...

Demokrasi di Bawah Senapan: Revisi UU TNI dan Masa Depan Papua

Demokrasi di Bawah Senapan: Revisi UU TNI dan Masa Depan Papua Mohammad Nayaka Rama Yoga Dalam sistem politik yang demokratis, supremasi sipil atas militer adalah salah satu prinsip fundamental yang harus dijaga. Ini akan menjamin kebebasan, keadilan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia (HAM). Sejak Reformasi 1998, Indonesia telah berusaha membatasi peran militer dalam urusan non-pertahanan melalui berbagai kebijakan, termasuk lahirnya Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI). Undang-undang ini secara eksplisit membatasi keterlibatan militer dalam urusan sipil dan mempertegas peran pertahanan TNI dalam sistem demokrasi. Namun, belakangan, muncullah revisi UU TNI yang justru yang dapat membalikkan cita-cita reformasi.  Revisi undang-undang ini mencantumkan perluasan wewenang militer dalam ranah non-perang (OMSP) hingga mencakup urusan pemerintahan, pembangunan, penanganan konflik sosial, bahkan keterlibatan dalam proyek strategis nasion...