Langsung ke konten utama

Hidup-Hidupilah LKK dengan semangat Ethics Of Care


Dokumentasi : Milik Penulis

Seperti biasa, kembali merayakan perjuangan dan pengabdian di HMI dengan menjadi instruktur di berbagai training. Kali ini, saya diberikan kesempatan untuk menjadi salah satu dari team master dalam Training LKK HMI Cabang Salatiga 2026. Banyak pengalaman dan kesan yang saya dapatkan dan bisa saya rasakan dalam forum ini.

Disinilah saya mendapatkan ruang untuk bisa hadir dan mendengarkan berbagai macam pengalaman dan pengetahuan dari perempuan-perempuan yang paling hebat. Saya belajar banyak bagaimana perempuan yang seringkali menjadi objek marjinalisasi dan subordinasi dalam masyarakat kita, memiliki cara pandang sendiri dalam memandang hidupnya dan dunia sekitarnya.

Satu hal yang saya kagumi dari peserta di dalam forum ini adalah bagaimana cara berpikir mereka yang khas, yaitu dengan mengedepankan empati, perasaan, dan kepedulian terhadap sesama. Saya kira ini adalah sebuah kelebihan, meskipun masyarakat kita yang patriarki cenderung memandang cara berpikir di atas sebagai cara berpikir yang salah, dimana seharusnya cara berpikir yang dipakai adalah mengedepankan rasio, efisiensi, dan menghitung untung-rugi. 

Padahal, karena cara berpikir patriarki inilah yang membuat peradaban menjadi hancur, ketidakadilan merebak luas, dan manusia kehilangan jejak kemanusiaannya. Maka, sudah sepantasnyalah kita sebagai manusia, beralih kepada cara berpikir yang juga melibatkan rasa empati, kepedulian, dan kasih sayang sesama manusia. 

Inilah yang menjadi wacana besar dari Etika Kepedulian (Ethics Of Care) dan harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, begitu juga diimplementasikan dalam kehidupan berorganisasi mahasiswa, begitu juga dalan organisasi saya yaitu HMI yang saya rasa sampai saat ini masih sangat patriarki. 

Saya yakin dan percaya bahwa dengan melibatkan dan memberikan ruang partisipasi yang lebih kepada perempuan dalam ruang-ruang publik dan kepemimpinan, akan membuat dunia ini semakin baik dan memperbaiki nasib bumi saat ini. Mengutip apa yang Vandana Shiva katakan dalam bukunya Staying Alive: Women, Ecology and Development , yaitu "Alam dan Perempuan adalah sumber kehidupan dan kesejahteraan".

Sebuah persembahan untuk:

@ambarati.n

@kohatisalatiga

Dari Insturuktur Yang Teramat Faqir : Mohammad Nayaka Rama Yoga

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Penindas Disebut Pahlawan, Wujud Tertinggi Impunitas di Negeri Ini

Ketika Penindas Disebut Pahlawan, Wujud Tertinggi Impunitas di Negeri Ini Ditulis Oleh Mohammad Nayaka Rama Yoga Negara kembali mempermainkan ingatan kita. Di tengah luka sejarah yang belum sepenuhnya sembuh, di tengah tuntutan reformasi yang sampai saat ini tidak pernah terwujud, pemerintah pada hari ini justru mengumumkan sebuah berita yang maha ngawur. Soeharto diangkat sebagai Pahlawan Nasional . Sebuah keputusan yang bukan hanya absurd, tetapi juga menjadi perwujud maha dahsyat dari impunitas yang telah mengakar dalam tubuh republik ini. Betapa ironisnya negara ini, di mana seorang penguasa yang telah menuangkan banjir darah genosida, korupsi, dan merepresi rakyatnya, kini diangkat sejajar dengan  para pahlawan yang sudah berjuang dengan nyawa dan harta demi rakyat Indonesia. Seolah-olah sejarah dapat diputihkan hanya dengan piagam penghargaan dan upacara penghormatan. Pemberian gelar ini adalah suatu perayaan terhadap bangsa kita yang pelupa. Peristiwa ini menampar wajah pa...

Dari Bilik-Bilik TPS ke Lobi-Lobi Para Elit: Mau Dibawa Kemana Demokrasi Lokal Kita Hari Ini?

  Dari Bilik-Bilik TPS ke Lobi-Lobi Para Elit: Mau Dibawa Kemana Demokrasi Lokal Kita Hari Ini? Mohammad Nayaka Rama Yoga Sumber: Ilustrasi Pribadi      Hari ini, banyak orang sudah lelah dengan hiruk-pikuk dunia politik. Sebagian masyarakat menganggap Pilkada penuh dengan keributan, penuh dengan money politic , dan pemasangan baliho-baliho yang memenuhi dan mengganggu estetika jalanan. Belum lagi politisi yang semakin banyak menjual janji-janji kosong, dan berbagai drama lainnya yang tidak berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat. Karena itu, ketika muncul wacana agar kepala daerah baik di kabupaten/kota maupun provinsi tidak lagi dipilih langsung oleh rakyat, melainkan dipilih oleh DPRD, sebagian orang justru mengangguk-angguk dan menyatakan setuju dalam hati. Di dalam hati mereka terbersit “akhirnya aku nggak usah lagi deh nyoblos-nyoblos paslon yang gak ku kenal di TPS”. Efeknya yang paling dominan adalah tidak akan ada lagi hawa-hawa kampanye di sepanjang j...

Apakah Salah Ketika Saya Berpartai

Apakah Salah Ketika Saya Berpartai Oleh : Mohammad Nayaka Rama Yoga Dahulu, pada masa awal kemerdekaan hingga tahun 1960-an, orang Indonesia tidak pernah malu untuk berpolitik. Justru pada masa itu, masyarakat merasa bangga apabila mereka menjadi bagian dari suatu partai. Petani ikut rapat organisasi petani di setiap balai desa, buruh membaca koran partai di sela-sela waktu istirahat kerjanya, mahasiswa belajar berorasi dari mentor-mentor organisasi sayap partai, dan ibu-ibu di kampung-kampung mengikuti kegiatan arisan yang dikelola oleh organisasi perempuan partai. Politik menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sebagai sesuatu yang jauh, rumit, atau hanya milik para elite partai. Sejarawan Benedict Anderson (1972) menyebut masa-masa ini sebagai periode ketika rakyat bukan hanya berbicara tentang politik, tetapi benar-benar menjalankan politik sebagai bagian dari kehidupan mereka. Pada masa itu, partai-partai politik memiliki basis sosial yang sangat kuat, bahkan sampai terse...