![]() |
| Kreasi Eaiy |
Ada hal-hal kecil dalam hidup kita yang
seringkali membawa kenangan kembali melintas. Salah satunya adalah momen dikala
menikmati secangkir teh nan legit.
Rasa-rasanya, hakikat teh itu selalu
terlihat sederhana. Tidak nampak mewah, tidak pula dipenuhi kerumitan. Hanya
minuman yang terdiri dari air panas, daun teh yang sudah diluluh lantahkan
sedimikian rupa, dan dapat diseduh dalam waktu sececah mata memandang. Namun
entah kenapa, dari hal yang sesederhana ini, sering muncul banyak hal yang
tidak sesederhana kelihatannya. Ingatan, perasaan, bahkan bayangan seseorang
yang pernah kita cintai.
Kadang ketika kita mulai menyesap teh
di sore hari, ada bayangan yang datang tanpa diseru. Bayangan tentang
panjangnya percakapan yang pernah terjadi, tentang renyahnya tawa di antara dua
insan, atau tentang seseorang yang dulu sering duduk di seberang meja dan
saling memandang dengan begitu cerapnya.
Dulu, semua itu terasa dekat dan
berarti. Percakapan terasa ringan mengalir, waktupun berjalan begitu pelannya,
dan dunia yang hingar bingar seketika terasa senyap. Secangkit teh lah yang
menjadi teman dan saksi bisu di antara banyaknya cerita dan curhatan yang
mengalir layaknya sungai Caño Cristales (Coba anda cari di Google,
pasti seketika terkesima).
Namun hidup memang tidak selalu
berjalan seperti yang kita rancang dan bayangkan.
Ada orang-orang yang datang dengan
kehangatan, laksana teh yang baru saja diseduh. Kehadirannya membuat hari-hari
terasa lebih menenangkan. Tapi ada juga yang akhirnya pergi, meninggalkan kita
dengan kenangan yang masih hangat dalam ingatan.
Cinta kadang memang seperti itu. Tidak
selalu bertahan dalam waktu yang lama, kadangkala hanya singgah sebentar di
hati dengan meninggalkan sepenggal cerita dan kenangan indahnya.
Yang lebih aneh lagi, kenangan-kenangan
ini sering datang terpicu dari hal-hal yang kita anggap sederhana. Bukan dari
peristiwa-peristiwa besar, melainkan dari hal-hal kecil dan nampak remeh. Suara
sendok yang menyentuh cangkir, aroma teh yang dihirup pelan-pelan sampai ke
rongga hidung, dan perasaan kalau sore ini terasa sedikit lebih sunyi dari
biasanya. Ini semua bisa menjadi pemicu akan kenangan-kenangan indah dikala
bersama yang kita kasihi.
Dari sini kita sadar, bahwa yang kita
rindukan kadang bukan hanya orangnya. Kita juga merindukan suasana yang pernah
ada. Menurut pribadi penoreh, yang paling berharga bukan apa yang engkau minum,
namun bersama siapakah engkau meminum minuman itu. Disinilah bisa disimpulkan
betapa eksistensi menang melawan esensi.
Namun kita harus sepakati pula bahwa
waktu kian terus berjalan ke depan. Seperti teh yang perlahan menjadi dingin
jika dibiarkan terlalu lama, kehidupan juga bergerak ke arah yang tak dapat
kita tahan. Orang-orang berubah mengikuti jalan hidup nya masing-masing, dan
beberapa alkisah memang hanya ditakdirkan untuk berhenti di tengah jalan, tidak
mencapai garis finish-nya. Meski begitu, tidak semua yang berakhir ini harus
disesali.
Ada kisah cinta yang mungkin tidak
bertahan selamanya, tetapi tetap meninggalkan sesuatu yang baik. Cerita yang
mengkisahkan 2 insan yang pernah merasa sama-sama bahagia, sama-sama pernah
merasa saling dimengerti, dan kisah dimana kita memiliki seseorang yang membuat
jiwa terasa sedikit lebih hangat.
Seperti secangkir teh di sore hari,
mungkin cinta tidak selalu dimaksudkan untuk bertahan selamanya. Kadang cinta
hanya hadir untuk memberi pelajaran, menghangatkan hati, lalu menjadi bagian
indah dari rangkaian lakon hidup kita.
Dan mungkin, ketika suatu hari kita kembali menyesap teh dalam suasana yang maha hening, mungkin yang tersisa bukan lagi rasa kehilangan. Hanya kenangan yang pelan-pelan bisa kita terima seiring berjalannya waktu. Kenangan yang mirip seperti rasa hangat yang tertinggal di dasar cangkir. 🍵

Komentar
Posting Komentar