Langsung ke konten utama

Antara Teh, Kenangan, dan Cinta yang Pernah Singgah

Kreasi Eaiy

Ditorehkan oleh: Mohammad Nayaka Rama Yoga

Ada hal-hal kecil dalam hidup kita yang seringkali membawa kenangan kembali melintas. Salah satunya adalah momen dikala menikmati secangkir teh nan legit.

Rasa-rasanya, hakikat teh itu selalu terlihat sederhana. Tidak nampak mewah, tidak pula dipenuhi kerumitan. Hanya minuman yang terdiri dari air panas, daun teh yang sudah diluluh lantahkan sedimikian rupa, dan dapat diseduh dalam waktu sececah mata memandang. Namun entah kenapa, dari hal yang sesederhana ini, sering muncul banyak hal yang tidak sesederhana kelihatannya. Ingatan, perasaan, bahkan bayangan seseorang yang pernah kita cintai.

Kadang ketika kita mulai menyesap teh di sore hari, ada bayangan yang datang tanpa diseru. Bayangan tentang panjangnya percakapan yang pernah terjadi, tentang renyahnya tawa di antara dua insan, atau tentang seseorang yang dulu sering duduk di seberang meja dan saling memandang dengan begitu cerapnya.

Dulu, semua itu terasa dekat dan berarti. Percakapan terasa ringan mengalir, waktupun berjalan begitu pelannya, dan dunia yang hingar bingar seketika terasa senyap. Secangkit teh lah yang menjadi teman dan saksi bisu di antara banyaknya cerita dan curhatan yang mengalir layaknya sungai Caño Cristales (Coba anda cari di Google, pasti seketika terkesima).

Namun hidup memang tidak selalu berjalan seperti yang kita rancang dan bayangkan.

Ada orang-orang yang datang dengan kehangatan, laksana teh yang baru saja diseduh. Kehadirannya membuat hari-hari terasa lebih menenangkan. Tapi ada juga yang akhirnya pergi, meninggalkan kita dengan kenangan yang masih hangat dalam ingatan.

Cinta kadang memang seperti itu. Tidak selalu bertahan dalam waktu yang lama, kadangkala hanya singgah sebentar di hati dengan meninggalkan sepenggal cerita dan kenangan indahnya.

Yang lebih aneh lagi, kenangan-kenangan ini sering datang terpicu dari hal-hal yang kita anggap sederhana. Bukan dari peristiwa-peristiwa besar, melainkan dari hal-hal kecil dan nampak remeh. Suara sendok yang menyentuh cangkir, aroma teh yang dihirup pelan-pelan sampai ke rongga hidung, dan perasaan kalau sore ini terasa sedikit lebih sunyi dari biasanya. Ini semua bisa menjadi pemicu akan kenangan-kenangan indah dikala bersama yang kita kasihi.

Dari sini kita sadar, bahwa yang kita rindukan kadang bukan hanya orangnya. Kita juga merindukan suasana yang pernah ada. Menurut pribadi penoreh, yang paling berharga bukan apa yang engkau minum, namun bersama siapakah engkau meminum minuman itu. Disinilah bisa disimpulkan betapa eksistensi menang melawan esensi.

Namun kita harus sepakati pula bahwa waktu kian terus berjalan ke depan. Seperti teh yang perlahan menjadi dingin jika dibiarkan terlalu lama, kehidupan juga bergerak ke arah yang tak dapat kita tahan. Orang-orang berubah mengikuti jalan hidup nya masing-masing, dan beberapa alkisah memang hanya ditakdirkan untuk berhenti di tengah jalan, tidak mencapai garis finish-nya. Meski begitu, tidak semua yang berakhir ini harus disesali.

Ada kisah cinta yang mungkin tidak bertahan selamanya, tetapi tetap meninggalkan sesuatu yang baik. Cerita yang mengkisahkan 2 insan yang pernah merasa sama-sama bahagia, sama-sama pernah merasa saling dimengerti, dan kisah dimana kita memiliki seseorang yang membuat jiwa terasa sedikit lebih hangat.

Seperti secangkir teh di sore hari, mungkin cinta tidak selalu dimaksudkan untuk bertahan selamanya. Kadang cinta hanya hadir untuk memberi pelajaran, menghangatkan hati, lalu menjadi bagian indah dari rangkaian lakon hidup kita.

Dan mungkin, ketika suatu hari kita kembali menyesap teh dalam suasana yang maha hening, mungkin yang tersisa bukan lagi rasa kehilangan. Hanya kenangan yang pelan-pelan bisa kita terima seiring berjalannya waktu. Kenangan yang mirip seperti rasa hangat yang tertinggal di dasar cangkir. 🍵

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Penindas Disebut Pahlawan, Wujud Tertinggi Impunitas di Negeri Ini

Ketika Penindas Disebut Pahlawan, Wujud Tertinggi Impunitas di Negeri Ini Ditulis Oleh Mohammad Nayaka Rama Yoga Negara kembali mempermainkan ingatan kita. Di tengah luka sejarah yang belum sepenuhnya sembuh, di tengah tuntutan reformasi yang sampai saat ini tidak pernah terwujud, pemerintah pada hari ini justru mengumumkan sebuah berita yang maha ngawur. Soeharto diangkat sebagai Pahlawan Nasional . Sebuah keputusan yang bukan hanya absurd, tetapi juga menjadi perwujud maha dahsyat dari impunitas yang telah mengakar dalam tubuh republik ini. Betapa ironisnya negara ini, di mana seorang penguasa yang telah menuangkan banjir darah genosida, korupsi, dan merepresi rakyatnya, kini diangkat sejajar dengan  para pahlawan yang sudah berjuang dengan nyawa dan harta demi rakyat Indonesia. Seolah-olah sejarah dapat diputihkan hanya dengan piagam penghargaan dan upacara penghormatan. Pemberian gelar ini adalah suatu perayaan terhadap bangsa kita yang pelupa. Peristiwa ini menampar wajah pa...

Dari Bilik-Bilik TPS ke Lobi-Lobi Para Elit: Mau Dibawa Kemana Demokrasi Lokal Kita Hari Ini?

  Dari Bilik-Bilik TPS ke Lobi-Lobi Para Elit: Mau Dibawa Kemana Demokrasi Lokal Kita Hari Ini? Mohammad Nayaka Rama Yoga Sumber: Ilustrasi Pribadi      Hari ini, banyak orang sudah lelah dengan hiruk-pikuk dunia politik. Sebagian masyarakat menganggap Pilkada penuh dengan keributan, penuh dengan money politic , dan pemasangan baliho-baliho yang memenuhi dan mengganggu estetika jalanan. Belum lagi politisi yang semakin banyak menjual janji-janji kosong, dan berbagai drama lainnya yang tidak berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat. Karena itu, ketika muncul wacana agar kepala daerah baik di kabupaten/kota maupun provinsi tidak lagi dipilih langsung oleh rakyat, melainkan dipilih oleh DPRD, sebagian orang justru mengangguk-angguk dan menyatakan setuju dalam hati. Di dalam hati mereka terbersit “akhirnya aku nggak usah lagi deh nyoblos-nyoblos paslon yang gak ku kenal di TPS”. Efeknya yang paling dominan adalah tidak akan ada lagi hawa-hawa kampanye di sepanjang j...

Apakah Salah Ketika Saya Berpartai

Apakah Salah Ketika Saya Berpartai Oleh : Mohammad Nayaka Rama Yoga Dahulu, pada masa awal kemerdekaan hingga tahun 1960-an, orang Indonesia tidak pernah malu untuk berpolitik. Justru pada masa itu, masyarakat merasa bangga apabila mereka menjadi bagian dari suatu partai. Petani ikut rapat organisasi petani di setiap balai desa, buruh membaca koran partai di sela-sela waktu istirahat kerjanya, mahasiswa belajar berorasi dari mentor-mentor organisasi sayap partai, dan ibu-ibu di kampung-kampung mengikuti kegiatan arisan yang dikelola oleh organisasi perempuan partai. Politik menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sebagai sesuatu yang jauh, rumit, atau hanya milik para elite partai. Sejarawan Benedict Anderson (1972) menyebut masa-masa ini sebagai periode ketika rakyat bukan hanya berbicara tentang politik, tetapi benar-benar menjalankan politik sebagai bagian dari kehidupan mereka. Pada masa itu, partai-partai politik memiliki basis sosial yang sangat kuat, bahkan sampai terse...