Mengembalikan HMI ke Pangkuan Mustadh'afin
(Refleksi Dies Natalis HMI ke-79)
Tidak
henti-hentinya otokritik dilontarkan kepada Himpunan Mahasiswa Islam
(HMI), mulai dari karya Agus Salim Sitompul yang berjudul “44
Indikator Kemunduran HMI” sampai ke dalam diskusi-diskusi di tongkrongan
kadernya sendiri. Namun dalam tulisan yang sedikit ilmiah ini, penulis mencoba
untuk tidak banyak mengeluh dan memberikan otokritik yang kurang konkrit dan
tidak terstruktur seperti layaknya omong kosong belaka.
Dalam tulisan ini, penulis akan membahas sedikit gagasan kecil lagi mungil yang cenderung anti mainstream. Gagasan ini akan mematahkan pikiran mainstream yang sudah diwariskan oleh senior-senior terdahulu kepada kader-kadernya tentang idealnya HMI. Kualitas insan cita yang selalu didoktrinkan di dalam Basic Training atau Latihan Kader 1 yang menurut penulis sendiri indah untuk disampaikan, akan tetapi sulit diwujudkan dalam tindakan kader-kadernya dalam kehidupan sehari-harinya.
Mission
HMI yang secara sederhana dimaknai sebagai tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh kader-kader
HMI menjadi suatu pembahasan menarik saat disampaikan di dalam forum. Dalam
konteks ini, kader HMI diibaratkan layaknya seorang Nabi yang membawa ajaran
yang akan menyelematkan umatnya di dunia maupun di akhirat. Tak lupa pula
bagaimana upaya-upaya doktrinasi kepada para mahasiswa yang diglorifikasikan akan menjadi mesias atau penyelamat bagi
negara dan masyarakatnya. Istilah mahasiswa sebagai Agent Of Change, Iron
Stock, Social Control, Moral of Force, dan istilah-istilah keren lainnya
juga diajarkan dalam pembahasan Mission HMI.
Tujuan HMI juga
dibahas dalam materi Mission HMI. “Terbinanya insan akademis, pencipta,
pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya
masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahu Wata’ala”, begitulah
bunyinya, yang sering dipahami oleh para kadernya bahwa Tujuan ini sangat
mustahil atau bisa dibilang sangat utopis untuk dicapai. Saat mengikuti
Training LK 2, penulis pun juga mempertanyakan kembali makna dari tujuan HMI
ini. Syukurlah instruktur yang saat itu menjadi Master Of Training (MOT)
menjawabnya dengan cukup baik, meskipun menurut penulis sendiri, masih kurang
cukup untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Sejak lahirnya
Orde Baru, HMI cenderung berpihak kepada elit dan pemerintah. Ini dibuktikan
dari banyaknya para alumni HMI yang duduk di jabatan struktural pemerintahan
mulai dari MPR, DPR, Menteri, dan jajaran lainnya. Jarang sekali kita temui
alumni-alumni HMI yang mengorganisir rakyat dalam pergerakan. Mungkin salah
satu contoh yang paling konkret untuk bisa memberikan pandangan tentang
keberpihakan HMI pada rakyat kecil adalah sosok dari Munir Said Thalib.
Munir memilih untuk mengorganisir rakyat dan
memberikan bantuan hukum, alih-alih menjadi seorang pejabat. Ia mengorganisir
rakyat untuk bisa melawan ketertindasan yang terjadi di berbagai sektor. Salah
satu sektor yang digarapnya adalah sektor buruh pabrik. Munir memberikan
berbagai macam pembelaan dan pendidikan hukum kepada para buruh yang ada di
pabrik. Keadaan buruh pada saat itu seringkali mengalami penghisapan
dikarenakan kebijakan dan upah yang tidak adil. Dirinya tidak segan-segan untuk
turun langsung ke masyarakat memberikan bantuan hukum supaya masyarakat tidak
ditindas kembali.
Begitu pula
keberpihakannya kepada keluarga-keluarga yang anggota keluarganya diculik oleh
penguasa pada saat itu. Setelah tahun 1998, Munir memberikan pengawalan penuh
kepada keluarga korban. Dedikasinya yang tinggi dalam memperjuangkan Hak Asasi
Manusia menyebabkan dirinya seringkali berhadapan langsung dengan
Jenderal-Jenderal. Karena pendampingannya yang konsisten itu, mengantarkan
Munir kepada kematiannya di pesawat pada tahun 2004.
Watak organisasi
yang memiliki jiwa kerakyatan ditandai daripada keberpihakan mereka kepada
rakyat. Apa yang dimaksud dengan rakyat? Pendefinisian Rakyat diidentikkan
kepada masyarakat kecil atau dalam arti istilah Marxian adalah para proletar.
Sebagian besar penduduk Indonesia terdiri dari para proletar yang tidak
memiliki kemampuan dan akses terhadap alat produksi dikarenakan mereka tidak
memiliki uang yang cukup. Bekerja di pabrik menjadi salah satu cara dan upaya
untuk mendapatkan uang yang mudah. Alat produksi dapat dicontohkan dari mesin
yang digarap oleh para buruh atau tanah yang dimiliki oleh para petani.
Keberpihakan
kepada rakyat harus kembali ditonjolkan oleh HMI. Ini akan sesuai dengan
pernyataan yang dikatakan oleh Jenderal Sudirman, yakni HMI sebagai harapan
masyarakat Indonesia. Keberpihakan ini bisa diawali dari menjaga independensi.
Independensi dari HMI sendiri harus selalu dijaga. Kuatnya intervensi dari para
senior dan pemerintah harus bisa dibendung dengan sekuat tenaga. Dengan
memberikan jarak kepada pemerintah, HMI bisa senantiasa memberikan kritik
bahkan bisa menjadi oposisi yang kuat. Diketahui bersama, saat ini masyarakat
membutuhkan sosok oposisi untuk bisa mengawal kebijakan di atas.
Penulis akan
membeberkan berbagai macam fakta bahwa paradigma yang dipegang oleh HMI saat
ini tidak berwatak dan berjiwa kerakyatan. Dimulai dari pertanyaan, apakah HMI
saat ini menjadi oposisi daripada penguasa yang ada? Kita bisa lihat mulai dari
Pengurus Besar HMI (PB HMI) yang tidak memiliki visi untuk mengawal penderitaan
rakyat. Begitu pula di Cabang-Cabang yang seharusnya mereka mengawal penuh
ketertindasan masyarakat di daerahnya masing-masing. Mereka tidak memiliki visi
tersebut dibuktikan dengan tidak adanya wacana perubahan sosial yang bisa
dimulai dengan aksi ataupun advokasi yang dilakukan oleh kader-kadernya.
PB HMI tidak
memiliki wacana dan narasi besar untuk bisa menyelesaikan berbagai macam
probelematika, yang telah dilakukan negara ini kepada masyarakatnya. Sebenarnya
ada banyak problem yang terjadi di masyarakat, seperti kasus penggusuran di
Rempang dan Kampung Bayam, pemasangan bambu yang dilakukan oleh oknum di daerah
Banten sejauh 30 km, brutalitas polisi dan TNI yang dilakukan terhadap sipil,
dan masalah-masalah sektoral lainnya. Tidak pernah adanya kajian dan aksi untuk
menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Ini menjadi pertanyaan bersama apakah
HMI masih layak menjadi “harapan masyaarakat Indonesia” atau tidak?
Perlunya
membangun narasi besar apa yang akan dibawa HMI kepada masayarakat Indonesia.
Entah narasi Hak Asasi Manusia, lingkungan hidup yang adil, Pembelaan terhadap
upah tenaga kerja yang layak, penolakan terhadap perampasan ruang hidup di
masayarakat yang dilakukan oleh korporat, atau narasi- narasi lainnya yang
berpihak kepada rakyat. Maka dari itu, izinkanlah penulis memberikan beberapa
langkah-langkah praktis yang dapat ditempuh untuk menerapkan paradigma yang
berwatak kerakyatan.
Pertama, langkah
awal yang strategis adalah dengan membangun pelatihan advokasi atau pelatihan
pengorganisiran masyarakat yang tersebar di seluruh Cabang HMI di Indonesia.
Sekolah ini bertujuan untuk mencetak kader-kader yang memiliki kemampuan dalam
memahami persoalan sosial, menganalisis struktur ketimpangan, dan merancang
strategi advokasi yang efektif.
Dalam
praktiknya, kurikulum sekolah advokasi dapat mencakup materi tentang Hak Asasi Manusia
(HAM), teknik lobbying, manajemen konflik, hingga metode pemberdayaan
masyarakat. Selain itu, sekolah ini harus berbasis pada pendekatan partisipatif,
di mana peserta tidak hanya belajar teori, tetapi juga langsung terjun ke
lapangan untuk mengidentifikasi masalah dan bekerja sama dengan masyarakat
dalam mencari solusi (Chambers, 1997). Dengan adanya sekolah advokasi di
seluruh Cabang, HMI dapat menciptakan jaringan kader yang solid, terlatih, dan
siap untuk mendampingi masyarakat di berbagai daerah, sehingga misi kerakyatan
dapat diwujukan secara nyata dan merata.
Kedua,
Senantiasa melakukan analisis sosial dan pembacaan situasi setiap bulan di
seluruh tingkatan. Pengurus Besar (PB HMI) membaca situasi nasional di
Indonesia, Badan Koordinasi wilayah (Badko) membaca situasi di tingkat
Provinsi, Cabang membaca situasi di tingkat Kabupaten/Kota, dan Komisariat
membaca situasi di universitasnya. Hal ini penting dilakukan untuk memetakan
berbagai macam problematika yang ada. Pembacaan situasi dan analisis sosial ini
menjadi penting ketika ingin melakukan perubahan sosial. Bisa dimulai dari
masalah yang paling kecil sampai yang paling besar. Dengan cara ini HMI bisa
langsung terlibat dalam pengorganisian masyarakat dan memberikan dampak
langsung kepada mereka yang terdampak. Dan perlunya melibatkan mitra-mitra yang
terdampak secara langsung untuk memetakan solusi bersama-sama.
Ketiga,
membuat berbagai kajian dan penelitian. Sebagai insan akademis, kader HMI harus
melakukan penelitian yang sesuai dengan kaidah ilmiah terhadap kasus-kasus yang
sudah dipetakan. Hal ini dilakukan, agar HMI memiliki data yang cukup untuk
bisa melakukan pengorganisian secara masif, terstruktur, sistematis dan dapat
dipertanggungjawabkan. HMI harus menjadi wadah intelektual yang berbobot.
Indikator berbobot salah satunya yaitu menyertakan data-data faktual yang ada.
Tidak berhenti sampai disitu, kajian yang sudah dilakukan harus disertai aksi
nyata, baik berupa demonstrasi kepada pemerintah, litigasi di pengadilan,
maupun pemberitaan dan edukasi di sosial media.
Menjadi
organisasi yang berwatak kerakyatan juga menuntut HMI untuk lepas daripada
cengkraman kekuasaan penguasa saat ini yang ada di Indonesia. HMI boleh bekerja
sama dengan penguasa untuk mewujudkan kebijakan-kebijakan yang sesuai dengan
kebutuhan masyarakat. Membuat berbagai macam usaha, seperti memiliki unit usaha
dalam bidang ekonomi dan teknologi untuk bisa menunjang program-program yang
ada di HMI seperti training maupun kegiatan lainnya.
Agar HMI tidak
selalu meminta kepada senior-seniornya ataupun anggap lembaga-lembaga negara
yang pasti mereka itu menuntut berbagai macam syarat yang harus dipatuhi oleh
HMI. Sebagai contoh syarat itu agar HMI patuh dan tunduk selalu kepada
pemerintah tidak usah banyak memberikan kritik yang tidak perlu. Padahal, misalnya
menganut dengan konsisten teologi pembebasan, hal tersebut sangat jauh berbalik
dengan apa yang diyakini oleh HMI yang selalu memperjuangkan keadilan
untuk masyarakat.
Referensi
Chambers, R.
(1997). Whose Reality Counts? Putting the First Last. London:
Intermediate Technology Publications.
Cornwall, A.
(2008). Unpacking 'Participation': Models, Meanings and Practices.
Community Development Journal, 43(3), 269–283.
Edwards, M.,
& Hulme, D. (1996). Too Close for Comfort? The Impact of Official Aid on
Nongovernmental Organizations. World Development, 24(6), 961–973.
Friedman, J.
(1992). Empowerment: The Politics of Alternative Development. Oxford:
Blackwell.
Merriam-Webster.
(t.t.). Elite. Dalam Merriam-Webster.com dictionary. Diakses pada 25
Januari 2025, dari https://www.merriam-webster.com/dictionary/elite
Putnam, R. D.
(1993). Making Democracy Work: Civic Traditions in Modern Italy.
Princeton: Princeton University Press.

Komentar
Posting Komentar