Langsung ke konten utama

Mengenal Mata Kuliah Pengantar Sosiologi, Calon Sosiolog wajib tahu ini


Pengantar Sosiologi

Pengantar Sosiologi merupakan mata kuliah dasar, bukan hanya di jurusan sosiologi, namun juga di bagi jurusan lain di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. 

Mata kuliah ini memperkenalkan pengertian dari berbagai konsep yang ada di sosiologi. Dengan mengenal pengertian konsep-konsep yang ada, maka akan mudah bagi seseorang untuk mempelajari mata kuliah lain yang tentunya menggunakan konsep-konsep sosiologi tersebut.

Selayang Pandang Tentang Sosiologi

Sosiologi sebagai ilmu yang dikembangkan pada tahun 1700-an pada dasarnya merupakan respons atas perubahan tatanan masyarakat yang merupakan akibat adanya serangkaian revolusi sosial di negara-negara Eropa. 

Kejadian tersebut melahirkan berbagai pemikiran dan tawaran ide-ide yang berusaha merekonstruksi ulang di samping membentuk tatanan sosial baru yang dianggap lebih relevan dengan proses perubahan sosial yang sedang terjadi. 

Respons yang muncul dari kalangan akademisi ini selanjutnya melahirkan tokoh-tokoh sosiologi yang ide-idenya banyak dijadikan rujukan dalam pengkajian masalah-masalah sosial.

Sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari hubungan-hubungan sosial yang ada dalam masyarakat, memfokuskan kajiannya pada peran dan kedudukan individu dalam masyarakat serta hubungan di antara keduanya. 

Sehubungan dengan hal ini beberapa pemikir sosiologi pun terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu mereka yang menekankan kajiannya pada: 

1) dominasi individu, 

2) dominasi masyarakat, dan 

3) saling pengaruh antara individu dan masyarakat. 

Sebagai ilmu yang mempelajari hubungan-hubungan sosial, sosiologi tidak dapat dipisahkan dari peranan ilmu sosial lainnya, seperti ilmu ekonomi, kesehatan, politik, komunikasi, antropologi, organisasi, hukum, dan lain-lain. 

Hal tersebut dikarenakan gejala atau fenomena sosial yang menjadi obyek kajian sosiologi pada dasarnya bukan gejala atau fenomena tunggal melainkan mengandung banyak dimensi.

Dengan demikian, pada perkembangan kajian sosiologi selanjutnya mulai muncul bidang-bidang kajian yang sifatnya terapan, seperti Sosiologi Ekonomi, Sosiologi Kesehatan, Sosiologi Hukum, Sosiologi Politik, Sosiologi Komunikasi, dan lain-lain.

Penulis: Mohammad Nayaka Rama Yoga

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Penindas Disebut Pahlawan, Wujud Tertinggi Impunitas di Negeri Ini

Ketika Penindas Disebut Pahlawan, Wujud Tertinggi Impunitas di Negeri Ini Ditulis Oleh Mohammad Nayaka Rama Yoga Negara kembali mempermainkan ingatan kita. Di tengah luka sejarah yang belum sepenuhnya sembuh, di tengah tuntutan reformasi yang sampai saat ini tidak pernah terwujud, pemerintah pada hari ini justru mengumumkan sebuah berita yang maha ngawur. Soeharto diangkat sebagai Pahlawan Nasional . Sebuah keputusan yang bukan hanya absurd, tetapi juga menjadi perwujud maha dahsyat dari impunitas yang telah mengakar dalam tubuh republik ini. Betapa ironisnya negara ini, di mana seorang penguasa yang telah menuangkan banjir darah genosida, korupsi, dan merepresi rakyatnya, kini diangkat sejajar dengan  para pahlawan yang sudah berjuang dengan nyawa dan harta demi rakyat Indonesia. Seolah-olah sejarah dapat diputihkan hanya dengan piagam penghargaan dan upacara penghormatan. Pemberian gelar ini adalah suatu perayaan terhadap bangsa kita yang pelupa. Peristiwa ini menampar wajah pa...

Dari Bilik-Bilik TPS ke Lobi-Lobi Para Elit: Mau Dibawa Kemana Demokrasi Lokal Kita Hari Ini?

  Dari Bilik-Bilik TPS ke Lobi-Lobi Para Elit: Mau Dibawa Kemana Demokrasi Lokal Kita Hari Ini? Mohammad Nayaka Rama Yoga Sumber: Ilustrasi Pribadi      Hari ini, banyak orang sudah lelah dengan hiruk-pikuk dunia politik. Sebagian masyarakat menganggap Pilkada penuh dengan keributan, penuh dengan money politic , dan pemasangan baliho-baliho yang memenuhi dan mengganggu estetika jalanan. Belum lagi politisi yang semakin banyak menjual janji-janji kosong, dan berbagai drama lainnya yang tidak berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat. Karena itu, ketika muncul wacana agar kepala daerah baik di kabupaten/kota maupun provinsi tidak lagi dipilih langsung oleh rakyat, melainkan dipilih oleh DPRD, sebagian orang justru mengangguk-angguk dan menyatakan setuju dalam hati. Di dalam hati mereka terbersit “akhirnya aku nggak usah lagi deh nyoblos-nyoblos paslon yang gak ku kenal di TPS”. Efeknya yang paling dominan adalah tidak akan ada lagi hawa-hawa kampanye di sepanjang j...

Apakah Salah Ketika Saya Berpartai

Apakah Salah Ketika Saya Berpartai Oleh : Mohammad Nayaka Rama Yoga Dahulu, pada masa awal kemerdekaan hingga tahun 1960-an, orang Indonesia tidak pernah malu untuk berpolitik. Justru pada masa itu, masyarakat merasa bangga apabila mereka menjadi bagian dari suatu partai. Petani ikut rapat organisasi petani di setiap balai desa, buruh membaca koran partai di sela-sela waktu istirahat kerjanya, mahasiswa belajar berorasi dari mentor-mentor organisasi sayap partai, dan ibu-ibu di kampung-kampung mengikuti kegiatan arisan yang dikelola oleh organisasi perempuan partai. Politik menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sebagai sesuatu yang jauh, rumit, atau hanya milik para elite partai. Sejarawan Benedict Anderson (1972) menyebut masa-masa ini sebagai periode ketika rakyat bukan hanya berbicara tentang politik, tetapi benar-benar menjalankan politik sebagai bagian dari kehidupan mereka. Pada masa itu, partai-partai politik memiliki basis sosial yang sangat kuat, bahkan sampai terse...